Industri Otomotif Nasional Tertekan Lonjakan Mobil Listrik Impor

Advertisement

Industri Otomotif Nasional Tertekan Lonjakan Mobil Listrik Impor

Minggu, 30 November 2025

Industri Otomotif Nasional Tertekan Lonjakan Mobil Listrik Impor

 

Dinamika Pasar Otomotif yang Mengalami Perlambatan

Industri otomotif Indonesia sedang memasuki fase koreksi yang cukup dalam, ditandai dengan penurunan penjualan di hampir seluruh segmen kendaraan konvensional. Kondisi ini semakin krusial ketika dibandingkan dengan lonjakan signifikan pada penjualan mobil listrik impor.

Di saat angka penjualan kendaraan bermotor nasional melemah, mobil listrik yang masuk secara CBU justru menunjukkan grafik pertumbuhan yang agresif. Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran preferensi konsumen, namun tidak diikuti kesiapan industri dalam negeri untuk menangkap peluang tersebut. 

Akibatnya, kontribusi nilai tambah yang semestinya masuk ke ekosistem produksi nasional malah mengalir ke negara asal produsen. Berdasarkan data terakhir, penjualan mobil listrik sepanjang 2025 mencapai 69.146 unit, dengan 73 persen di antaranya berasal dari impor utuh. 

Artinya, mayoritas nilai manufaktur, inovasi teknologi, dan penyerapan tenaga kerja tidak berputar di Indonesia. Kondisi ini harus menjadi perhatian dalam penyusunan strategi industri jangka panjang.

Ketimpangan Produksi dan Penjualan yang Memengaruhi Struktur Industri


Segmen kendaraan konvensional yang menjadi tulang punggung industri otomotif domestik terus mencatatkan penurunan penjualan yang cukup tajam. Penurunan ini bahkan melampaui angka produksi tahunan, sehingga memicu overstock dan menekan utilisasi pabrik. 

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya risiko penurunan investasi pada lini produksi lokal. Gaikindo mencatat, distribusi wholesales kendaraan selama Januari–Oktober 2025 hanya mencapai 634.844 unit, turun 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Penurunan serupa juga terjadi pada penjualan retail yang berada di angka 660.659 unit, merosot 9,6 persen dari capaian tahun lalu. Angka ini menunjukkan bahwa daya beli dan minat masyarakat terhadap kendaraan konvensional mengalami pelemahan yang cukup nyata.

Di sisi lain, laporan Ditjen ILMATE menunjukkan penurunan produksi kendaraan menjadi 957.293 unit, lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya. Ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan penyerapan pasar memunculkan potensi stagnasi dalam rantai pasok, terutama pada sektor komponen dan tenaga kerja.

Urgensi Intervensi Kebijakan untuk Menjaga Keberlanjutan Industri


Dari perspektif kebijakan industri, kondisi ini menuntut langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan ekosistem otomotif nasional. Penurunan pasar yang terjadi secara simultan dapat berdampak pada menurunnya investasi jangka panjang dan melemahkan daya saing manufaktur lokal. 

Tanpa intervensi, tekanan ini dapat mengakibatkan terganggunya stabilitas industri secara keseluruhan. Kementerian Perindustrian menegaskan perlunya stimulasi agar industri otomotif lokal dapat kembali stabil dan siap bersaing di era kendaraan listrik. 

Insentif yang tepat memungkinkan produsen dalam negeri memperkuat kapabilitas produksi mobil listrik secara lokal. Tanpa itu, dominasi impor akan semakin besar dan menggerus peluang ekonomi nasional. Arah kebijakan harus bertumpu pada keseimbangan antara transformasi teknologi dan perlindungan industri lokal. 

Pemerintah perlu mendorong percepatan investasi pabrik kendaraan listrik, peningkatan TKDN, serta kemudahan bagi produsen komponen untuk masuk ke rantai nilai baru. Dengan strategi yang tepat, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengamankan posisinya di pasar otomotif regional.

Video

Video