Chelsea Memulai Babak Baru di Pinggir Lapangan
Kepemimpinan Chelsea resmi memasuki fase baru setelah klub menunjuk Liam Rosenior sebagai manajer utama. Keputusan ini sekaligus mengakhiri kerja sama dengan Enzo Maresca yang sebelumnya mengomandoi The Blues.
Manajemen klub berharap pergantian ini membawa identitas permainan lebih agresif dan modern. Rosenior didatangkan dari Strasbourg, klub Ligue 1 yang juga berada di bawah naungan BlueCo, perusahaan milik Todd Boehly.
Kontrak jangka panjang hingga musim panas 2032 menunjukkan kepercayaan besar manajemen terhadap proyek jangka panjang yang diusungnya. Meski tergolong muda, Rosenior dinilai punya visi taktik yang jelas.
Tekanan tentu mengiringi langkah awal Rosenior di Stamford Bridge. Chelsea dikenal sebagai klub dengan ekspektasi tinggi, baik dari manajemen maupun suporter. Tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan ide permainan progresif ke dalam hasil nyata di level tertinggi Liga Inggris.
Rekam Jejak Singkat, Tantangan Besar
Karier kepelatihan Liam Rosenior terbilang masih singkat jika dibandingkan nama besar lain di Premier League. Ia mengawali langkahnya bersama Derby County dan Hull City di Divisi Championship, sebelum melompat ke Ligue 1 bersama Strasbourg.
Pengalaman ini membentuk fondasi pendekatan taktiknya. Di Strasbourg, Rosenior mulai dikenal sebagai pelatih yang berani menuntut intensitas tinggi dari para pemainnya. Timnya tidak selalu unggul materi, namun mampu bersaing lewat organisasi permainan dan disiplin posisi.
Pendekatan inilah yang menarik perhatian manajemen Chelsea. Namun, situasi di Chelsea jelas berbeda. Tekanan media, jadwal padat, serta tuntutan meraih trofi menjadi ujian nyata bagi Rosenior. Ia harus membuktikan bahwa gagasan yang sukses di klub menengah bisa diterapkan di raksasa Inggris.
Identitas Taktik: Fleksibel dan Menekan
Secara skema dasar, Rosenior kerap mengandalkan formasi 3-4-1-2 yang cair dalam praktiknya. Ketika fase menyerang berjalan, susunan ini bisa berubah menjadi 4-3-3 atau 4-2-3-1 sesuai kebutuhan. Fleksibilitas ini memberi ruang adaptasi saat menghadapi lawan berbeda.
Peran bek sayap menjadi krusial dalam sistem tersebut. Pemain seperti Reece James dan Malo Gusto berpotensi memainkan peran hibrida, bergerak ke tengah dan ikut mengisi area kotak penalti lawan. Pola ini menjaga dominasi jumlah pemain di lini tengah.
Ciri paling menonjol dari Rosenior adalah penekanan pada umpan-umpan pendek dan pressing tinggi. Statistik menunjukkan Strasbourg menjadi salah satu tim dengan penggunaan umpan panjang terendah di Eropa. Bagi Rosenior, pressing bukan sekadar bertahan, melainkan kelanjutan dari proses menyerang yang agresif dan penuh energi.
