Serangan Udara Israel di Gaza Saat Gencatan Senjata, Anak-Anak Kembali Jadi Korban

Advertisement

Serangan Udara Israel di Gaza Saat Gencatan Senjata, Anak-Anak Kembali Jadi Korban

Kamis, 08 Januari 2026

 

Serangan Udara Israel di Gaza Saat Gencatan Senjata, Anak-Anak Kembali Jadi Korban

Eskalasi Kekerasan di Tengah Gencatan Senjata

Serangkaian serangan udara kembali mengguncang Jalur Gaza pada Kamis waktu setempat, meski gencatan senjata masih diberlakukan. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan sedikitnya 13 warga Palestina tewas dalam berbagai serangan yang terjadi sejak pagi hari. 

Korban jiwa dilaporkan mencakup perempuan dan anak-anak yang berada di lokasi pengungsian. Menurut keterangan otoritas setempat, serangan tersebut menyasar wilayah padat penduduk di Gaza utara dan selatan. 

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius atas keselamatan warga sipil yang sebelumnya berharap gencatan senjata dapat memberi jeda kemanusiaan. Ketegangan pun kembali meningkat di lapangan.

Militer Israel menyatakan tengah menelaah laporan-laporan terkait korban sipil tersebut. Pernyataan ini disampaikan menyusul pertanyaan dari media internasional terkait detail operasi militer yang dilakukan. Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai sasaran yang diserang.

Dampak Serangan terhadap Warga Sipil


Serangan Drone dan Korban Anak-Anak


Salah satu insiden paling mematikan terjadi di Gaza selatan ketika sebuah drone menghantam tenda pengungsi. Empat orang dilaporkan tewas dalam peristiwa itu, termasuk tiga anak-anak yang berada di lokasi tersebut. Serangan ini menambah daftar panjang korban sipil selama konflik berkepanjangan.

Di wilayah utara, seorang anak perempuan berusia 11 tahun meninggal dunia akibat serangan di sekitar kamp pengungsi Jabalia. Selain itu, sebuah sekolah yang menjadi sasaran serangan dilaporkan menewaskan satu orang. Kejadian tersebut mempertegas risiko tinggi bagi fasilitas sipil di wilayah konflik.

Serangan terpisah juga terjadi di dekat Khan Younis yang menewaskan seorang pria dewasa. Badan pertahanan sipil Gaza menyebut total korban terus bertambah seiring proses evakuasi dan identifikasi di lapangan. Banyak keluarga masih mencari anggota mereka yang hilang.

Serangan Udara di Permukiman Padat


Pada malam hari, serangan udara dilaporkan menghantam sebuah rumah di wilayah timur Kota Gaza. Empat orang tewas dalam kejadian tersebut, sementara beberapa lainnya diduga tertimbun reruntuhan bangunan. Tim penyelamat segera dikerahkan untuk melakukan pencarian korban.

Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi terbatas akibat kerusakan infrastruktur. Relawan dan petugas medis bekerja dengan peralatan seadanya untuk menjangkau lokasi terdampak. Situasi ini memperlihatkan tantangan besar dalam upaya penyelamatan di Gaza.

Pihak pertahanan sipil menyatakan jumlah korban jiwa sejak pagi hari meningkat signifikan. Mereka menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berjalan. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak.

Reaksi Politik dan Militer


Klaim dan Tanggapan Israel


Militer Israel sebelumnya mengonfirmasi adanya proyektil yang diluncurkan dari wilayah Kota Gaza menuju Israel. Proyektil tersebut disebut jatuh di dalam Jalur Gaza sebelum mencapai wilayah Israel. Sebagai respons, militer Israel mengaku melakukan serangan balasan ke titik peluncuran.

Pernyataan resmi militer menyebut tindakan tersebut sebagai langkah defensif. Namun, tidak dijelaskan secara rinci bagaimana serangan balasan itu berdampak pada wilayah sipil. Klaim ini masih menjadi perdebatan di tingkat internasional.

Hingga kini, Israel belum memberikan laporan terperinci terkait korban sipil yang dilaporkan otoritas Gaza. Pemeriksaan internal disebut masih berlangsung untuk menilai kronologi kejadian. Transparansi menjadi sorotan utama dari berbagai organisasi kemanusiaan.

Sikap Hamas dan Data Korban


Juru bicara Hamas menyatakan serangan terbaru menunjukkan ketidakpatuhan Israel terhadap komitmen gencatan senjata. Menurutnya, aksi militer tersebut memperlemah upaya menjaga stabilitas dan melindungi warga sipil. Pernyataan ini disampaikan kepada media internasional.

Kementerian kesehatan Gaza mencatat ratusan warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Data tersebut mencakup perempuan dan anak-anak yang menjadi korban dalam berbagai insiden. Angka ini menambah tekanan global terhadap kedua pihak yang bertikai.

Dalam periode yang sama, militer Israel mengonfirmasi tiga tentaranya tewas akibat serangan militan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekerasan masih terus berlangsung meski ada kesepakatan penghentian tembak-menembak. Gencatan senjata pun dinilai rapuh dan mudah runtuh.

Video

Video