Jumlah Pengungsi di Sumatra Masih Tinggi
Badan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra melaporkan masih terdapat 111.788 warga terdampak yang tinggal di pengungsian. Jumlah ini merupakan data terkini hingga 28 Januari 2026.
Aceh menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak, mencapai 91.663 jiwa, sedangkan Sumatera Utara tercatat 11.085 jiwa, dan Sumatera Barat sebanyak 9.040 jiwa. Satgas menekankan bahwa jumlah pengungsi terus menurun setiap harinya.
Juru bicara Satgas, Amran, menyatakan pemerintah berharap seluruh pengungsi segera kembali ke tempat tinggal masing-masing setelah kondisi dinyatakan aman. Proses pemulihan infrastruktur dan hunian sementara menjadi prioritas saat ini.
Perkembangan Pembangunan Hunian Sementara
Satgas melaporkan progres pembangunan Hunian Sementara (Huntara) untuk warga terdampak sudah mencapai 4.281 unit dari total 17.231 unit yang direncanakan. Huntara dibangun untuk memberikan tempat tinggal sementara sebelum warga kembali ke rumah permanen.
Di Aceh, pembangunan Huntara telah rampung sebanyak 3.248 unit. Selain itu, pemerintah menyediakan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang memilih skema bantuan tunai, dengan 2.559 rekening DTH telah tersalurkan dari total 9.766 jiwa penerima.
Sementara itu, di Sumatera Utara, Huntara baru selesai 557 unit dari rencana 962 unit. Dari skema DTH, baru 1.168 rekening yang telah diterima warga, dari total penerima 6.550 jiwa. Satgas terus melakukan koordinasi untuk memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran.
Situasi Hunian dan Dana Tunggu di Sumatera Barat
Di Sumatera Barat, pembangunan Huntara telah selesai sebanyak 476 unit dari 618 unit yang direncanakan. Pemerintah juga menyalurkan DTH kepada warga terdampak, dengan 1.685 penerima telah menerima bantuan dari 2.004 jiwa yang terdaftar.
Amran menekankan bahwa pemerintah masih membutuhkan data lapangan lebih lengkap untuk memastikan distribusi Huntara dan DTH berjalan optimal. Hal ini menjadi langkah penting agar semua pengungsi segera menempati hunian sementara dengan layak.
Pemerintah menargetkan semua warga terdampak tidak lagi tinggal di pengungsian dalam waktu dekat. Pemantauan berkala terus dilakukan, terutama di daerah yang masih terdampak bencana banjir bandang dan longsor.
Pemulihan Infrastruktur Pascabencana
Bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar pada akhir November 2025 menimbulkan kerusakan parah pada rumah, jalan, dan jembatan. Hujan ekstrem menjadi salah satu pemicu utama bencana tersebut.
Pemerintah aktif membersihkan material kayu gelondongan dan lumpur yang tersisa akibat banjir. Pembersihan ini penting untuk memastikan akses masyarakat kembali normal serta mengurangi risiko kecelakaan pascabencana.
Selain itu, pembangunan kembali jalan dan jembatan tengah dilakukan untuk mendukung mobilitas masyarakat. Infrastruktur ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana agar aktivitas ekonomi dan sosial dapat segera pulih.
