Jepang Gali Tanah Jarang di Laut Dalam untuk Kurangi Ketergantungan pada China

Advertisement

Jepang Gali Tanah Jarang di Laut Dalam untuk Kurangi Ketergantungan pada China

Minggu, 01 Februari 2026

 

Jepang Gali Tanah Jarang di Laut Dalam untuk Kurangi Ketergantungan pada China

Jepang melangkah maju dalam upaya strategis untuk mengurangi ketergantungannya pada China dalam pasokan unsur tanah jarang, yang merupakan komponen kunci untuk industri teknologi tinggi seperti kendaraan listrik, ponsel, serta sistem pertahanan.

Inisiatif terbaru ini melibatkan misi pengeboran di kedalaman laut yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mengambil sedimen yang kaya mineral dan membuka peluang sumber daya domestik baru yang potensial.


Strategi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan China. Beijing adalah pemasok utama tanah jarang global dan telah menggunakan posisi dominannya untuk mengendalikan ekspor mineral kritis dalam beberapa situasi diplomatik, mendorong Jepang mencari alternatif.


Misi Laut Dalam untuk Tanah Jarang


Upaya Penambangan Seabed di Kedalaman 6.000 Meter


Pada Januari 2026, kapal riset ilmiah Jepang, Chikyu, memulai misi uji coba pengeboran di sedimen laut dalam di sekitar Pulau Minamitorishima, sebuah wilayah eksklusif Jepang di Samudra Pasifik. 

Tujuan utamanya adalah mengambil contoh sedimen dari kedalaman hingga 6.000 meter yang diyakini mengandung mineral tanah jarang dalam jumlah besar.


Proyek ini diposisikan sebagai upaya pertama di dunia untuk mengangkat sedimen dari kedalaman tersebut sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber pasokan mineral kritis. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi langkah awal menuju produksi domestik tanah jarang yang mandiri.


Tanah jarang mencakup sejumlah elemen logam yang sangat penting untuk beragam industri, termasuk neodymium, dysprosium, dan yttrium, yang sering digunakan dalam magnet berperforma tinggi, alat optik, dan komponen elektronik canggih.


Temuan Mineral dan Potensi Sumber Daya


Sedimen yang diambil dari laut menunjukkan bahwa materi ini memang mengandung unsur tanah jarang, meskipun jumlah pasti dan kualitasnya masih akan dianalisis lebih lanjut oleh pemerintah Jepang. Pemerintah menggambarkan temuan awal ini sebagai kemajuan signifikan untuk keamanan ekonomi dan strategi maritim nasional.


Minamitorishima sendiri diperkirakan memiliki cadangan tanah jarang yang sangat besar, beberapa analis memperkirakan ada jutaan ton mineral di daerah tersebut yang jika dikembangkan dapat menyediakan pasokan berkelanjutan selama puluhan generasi untuk teknologi industri.


Motivasi di Balik Diversifikasi Pasokan


Pengurangan Ketergantungan pada China


China secara historis mendominasi rantai pasokan tanah jarang dunia, baik dari segi produksi maupun pengolahan. Dominasi ini memberikan leverage geopolitik tersendiri yang terkadang digunakan sebagai alat tekanan ekonomi. 

Jepang, yang selama ini mengimpor sebagian besar tanah jarangnya dari China, kini berupaya menciptakan sumber domestik yang lebih stabil dan aman.


Upaya ini mendapatkan momentum lebih besar setelah Beijing mempertimbangkan pembatasan ekspor mineral kritis ke Jepang di tengah ketegangan diplomatik baru-baru ini. Hal ini meningkatkan urgensi Tokyo untuk menemukan sumber internal agar rantai pasokan industri vital tetap terjaga.


Strategi diversifikasi pasokan juga sejalan dengan upaya Jepang selama beberapa tahun terakhir, termasuk investasi di luar negeri dan kerja sama dengan negara lain untuk mengurangi dominasi China dalam pasar tanah jarang.


Keamanan Ekonomi dan Kepentingan Industri Dalam Negeri


Tanah jarang bukan hanya penting bagi sektor teknologi tinggi, tetapi juga bagi keamanan nasional. Komponen-komponen seperti magnet berdaya tinggi diperlukan dalam sistem pertahanan dan kendaraan listrik. 

Ketergantungan pada pemasok tunggal rentan terhadap gangguan pasokan jika terjadi konflik geopolitik atau sengketa perdagangan.


Dengan memiliki sumber daya yang dapat diolah di dalam negeri, Jepang berharap dapat menjaga stabilitas industri kritisnya sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi. Ini merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang Tokyo untuk mengamankan akses ke mineral yang menjadi fondasi ekonomi modern.


Tantangan Teknis dan Lingkungan


Kesulitan Penambangan di Laut Dalam


Meskipun potensi sumber daya sangat besar, penambangan di kedalaman laut ribuan meter menghadirkan tantangan teknis yang signifikan. Teknologi untuk mengeksploitasi sedimen laut dalam masih dalam tahap uji coba, dan biaya operasionalnya sangat tinggi.


Selain itu, dampak lingkungan menjadi perhatian utama. Ekstraksi sedimen laut dapat mengganggu ekosistem laut, merusak habitat organisme bentik, dan memicu perubahan pada struktur dasar laut. 

Para ilmuwan dan kelompok lingkungan internasional menyoroti pentingnya evaluasi dampak ekologis secara hati-hati sebelum penambangan dilakukan secara komersial.


Persaingan Global untuk Mineral Kritis


Inisiatif Jepang juga berpotensi memengaruhi dinamika global dalam persaingan pasokan mineral kritis. Negara lain seperti Amerika Serikat dan Australia juga berusaha memperkuat akses mereka terhadap tanah jarang dan mineral penting lainnya di tengah dominasi China.


Peluang kerja sama internasional muncul seiring negara-negara mencari alternatif pemasok untuk mendukung transisi energi bersih, produksi kendaraan listrik, dan kebutuhan industri teknologi tinggi lainnya. 


Langkah Jepang mengeksplorasi dan mengambil unsur tanah jarang dari sedimen laut dalam menunjukkan perubahan penting dalam strategi sumber daya nasional yang bertujuan mengurangi dominasi China dalam pasokan mineral vital. 

Proyek deep-sea mining ini adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk mencapai ketahanan pasokan industri, meningkatkan keamanan ekonomi, dan menanggapi tekanan geopolitik yang memengaruhi akses ke mineral penting.


Namun tantangan besar tetap ada, mulai dari aspek teknis penambangan laut dalam hingga dampak lingkungan yang harus ditangani dengan hati-hati. Keberhasilan proyek ini, jika dapat dioperasikan secara komersial, bisa memberikan Jepang sumber daya yang lebih independen dan berkelanjutan di masa depan.

Video

Video