Dugaan 140 Siswa Keracunan MBG Massal di Kupang

Advertisement

970x90px

Dugaan 140 Siswa Keracunan MBG Massal di Kupang

HapriYandi
Rabu, 23 Juli 2025

 

Dugaan 140 Siswa Keracunan MBG Massal di Kupang

Latar Belakang Kasus

Sekitar 140 siswa SMP Negeri 8 Kupang, NTT, dilaporkan mengalami gejala keracunan, seperti sakit perut, diare, mual, dan muntah, tak lama setelah menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terdiri dari tahu dan sayuran. 

Gejala awal muncul dalam hitungan jam pasca konsumsi, dengan beberapa siswa berulang kali menuju fasilitas toilet sekolah.

Kronologi Terjadinya Keracunan

Pada pagi hari pukul 07:30 WITA, menu MBG dibagikan. Menurut laporan guru, beberapa siswa merasa ada sesuatu “aneh” pada rasa makanan itu terasa asin dan asam, namun tetap dikonsumsi.  

Selang beberapa jam, ruang UKS dipenuhi siswa yang terindikasi keracunan. Jumlah pasien kemudian melonjak mencapai total 140 orang, dengan 8 siswa harus dirawat di RSUD SK Lerik.

Respon Pemerintah Daerah

Hentikan Distribusi MBG

Kepala sekolah langsung menghentikan distribusi dan konsumsi menu MBG setelah laporan awal dan mengarahkan siswa ke UKS. Pemerintah kota Kupang bahkan mencegah distribusi lanjutan guna menghentikan dampak yang lebih luas.

Penanganan Medis Prioritas

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menyebut keselamatan siswa sebagai prioritas utama, dan menginstruksikan tim medis menstabilkan kondisi, termasuk pemberian infus dan pemeriksaan intensif di tiga rumah sakit rujukan: RSUD SK Lerik, RSU Mamami, dan RS Siloam.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi medis dan laboratorium sebelum menyimpulkan penyebab keracunan.

Penyidikan dan Evaluasi

Polisi dan dinas kesehatan dikerahkan untuk melakukan investigasi. Mereka mengumpulkan data dan sampel makanan untuk memastikan asal dan penyebab kandungan berbahaya dalam menu MBG. Tim gabungan juga akan mendalami kemungkinan kesalahan pada proses pengadaan atau distribusi.

Fakta dan Tantangan terhadap Program MBG

Probabilitas Kontaminasi

MBG memiliki tanggung jawab besar menjamin mutu dan keamanan pangan. Namun, dugaan keracunan ini menunjukkan ada potensi masalah pada rantai distribusi, penanganan makanan, atau prosedur sanitasi, dan bukan hanya terkait sumber bahan baku

Identifikasi melalui laboratorium akan membantu memastikan apakah faktor kontaminasi biologis (bakteri, virus) atau kimia (residu) atau kombinasi keduanya.

Dampak Kesehatan dan Psikologis

Tidak hanya efek fisik, kejadian keracunan massal ini memiliki potensi gangguan psikologis bagi siswa. Berdasarkan laporan CNN, sebagian siswa sempat menolak makanan sejenis setelah insiden, menandakan trauma setelah pengalaman massal ini.

Trauma ini dapat berefek pada pola makan, kepercayaan terhadap program gizi pemerintah, hingga ketidaksiapan mereka kembali menerima makanan serupa tanpa jaminan keamanan.

Sistem Pengamanan dan Protokol

Pakar gizi sepakat bahwa setiap program pemberian makanan kepada kelompok rentan, terutama anak-anak sekolah, harus melewati protokol ujicoba rasa (sensory test), uji laboratorium, dan pendampingan ketat selama distribusi

Kejadian di Bogor dan Cianjur sebelumnya telah memicu BGN untuk memperketat SOP serta menarik bahan dari sumber tertentu.

Rekomendasi Langkah Selanjutnya

Pelaksanaan Audit Gizi

Mutlak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok, dari pembelian, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi. Rekomendasi audit independen dapat menghasilkan rekomendasi perbaikan sistemik.

Edukasi dan Komunikasi Risiko

Sekolah dan pemerintah daerah perlu segera menerapkan program komunikasi risiko, dimana orang tua dan siswa diberikan edukasi agar dapat mengenali tanda-tanda awal keracunan dan tindakan pertolongan pertama yang benar.

Pelibatan Pakar dan Stakeholder

Langkah evaluasi harus melibatkan pakar gizi, mikrobiologi, dan perwakilan sekolah dan orang tua. Rekomendasi teknis menyeluruh bertumpu pada data laboratorium serta wawasan stakeholder di lapangan.

Video

Video