Malaysia Siap Menyalip Indonesia Jadi Pemimpin Pasar Mobil ASEAN

Advertisement

Malaysia Siap Menyalip Indonesia Jadi Pemimpin Pasar Mobil ASEAN

Kamis, 08 Januari 2026

 

Malaysia Siap Menyalip Indonesia Jadi Pemimpin Pasar Mobil ASEAN

Tren Penjualan Mobil Malaysia Mendekati Indonesia

Penjualan kendaraan di Malaysia sepanjang 2025 diperkirakan hampir menyamai Indonesia. Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyebut angka penjualan Malaysia nyaris mencapai 800 ribu unit. Sementara itu, target Indonesia direvisi menjadi 780 ribu unit.

Data terakhir dari Asosiasi Otomotif Malaysia menunjukkan, dari Januari hingga November 2025, penjualan mobil di negara tersebut mencapai 727.836 unit. Angka ini turun tipis dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang tercatat 736.317 unit. Target akhir Malaysia tahun ini diproyeksikan mencapai 780 ribu unit.

Jika prediksi ini tepat, Malaysia akan mengambil alih posisi Indonesia sebagai negara dengan penjualan mobil tertinggi di ASEAN. Kondisi ini menjadi perhatian industri otomotif Tanah Air karena potensi pergeseran pasar regional cukup besar.

Penurunan Pasar Mobil Indonesia


Sementara itu, penjualan mobil di Indonesia menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun ini. Berdasarkan data Gaikindo, wholesales periode Januari-November 2025 tercatat 710.084 unit. Padahal, tahun sebelumnya pada periode yang sama, angka ini mencapai 785.917 unit.

Penurunan sebesar 9,6 persen ini menunjukkan pasar domestik mulai melemah. Sebelumnya, Indonesia selalu menjadi pemimpin penjualan mobil di kawasan ASEAN. Posisi ini bahkan jauh meninggalkan negara lain di kawasan regional.

Kondisi ini memicu kekhawatiran investor. Jika tren penurunan terus berlanjut, minat investasi bisa berpindah ke Malaysia, mengingat pasar di sana lebih stabil dan penjualannya mendekati level Indonesia.

Ancaman Pergeseran Investasi ke Malaysia


Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, menyatakan, penurunan penjualan domestik bisa memengaruhi keputusan investasi. "Kalau situasi ini berlanjut, investor mungkin akan lebih tertarik masuk ke Malaysia daripada Indonesia," ujar Bob.

Kekhawatiran ini muncul karena stabilitas pasar menjadi faktor penting bagi investor asing. Jika penjualan domestik terus melemah, Indonesia berpotensi kehilangan peluang untuk menarik investasi baru di sektor otomotif.

Selain itu, pergeseran investasi ke negara tetangga bisa berdampak jangka panjang pada lapangan kerja dan pengembangan industri otomotif lokal. Kondisi ini menuntut langkah cepat dari pemerintah untuk menjaga daya saing nasional.

Stimulus Pemerintah untuk Menghidupkan Pasar


Menanggapi situasi ini, pemerintah tengah mempersiapkan insentif bagi industri otomotif. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sudah mengirim surat ke Kementerian Keuangan terkait rencana stimulus.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan menelaah usulan tersebut secara serius. Stimulus ini diharapkan mampu mendorong produksi kendaraan ramah lingkungan dan meningkatkan penjualan mobil domestik.

Prinsip utama insentif terbaru adalah keterkaitan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan batas emisi. Artinya, tidak semua kendaraan akan mendapat dukungan fiskal, hanya yang memenuhi kriteria tertentu.

Fokus Insentif pada Kendaraan Ramah Lingkungan


Agus menekankan, kendaraan listrik berbasis nikel akan mendapat insentif lebih besar dibandingkan baterai LFP. Hal ini bertujuan mendorong produksi EV dengan bahan baku strategis dan ramah lingkungan.

Selain itu, insentif diharapkan bisa memacu industri otomotif untuk meningkatkan standar lingkungan kendaraan yang diproduksi. Dengan begitu, target emisi dapat terpenuhi sekaligus meningkatkan kualitas produk lokal.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga posisi Indonesia di pasar otomotif ASEAN. Stimulus yang tepat dapat menjadi strategi untuk mengembalikan dominasi pasar dan menarik minat investor.

Video

Video